Monday, December 18, 2017

“MEWUJUDKAN GARUDA DI DADAKU”

Schipol Airport, Amsterdam (18 Desember 2017)

Perjalanan saya dengan Garuda Indonesia (GA) dengan nomor penerbangan GA88 dari Bandara Soekarno-Hatta menuju Bandara Schipol, Amsterdam Belanda kali ini diliputi rasa haru sekaligus bangga. Ada 2 (dua) alasan yang mendasari keharuan dan kebanggaan saya tersebut, pertama, hampir seluruh bangku kelas ekonomi dimana saya duduk terisi penuh (info dari pramugari bahwa kelas business juga terisi penuh); dan kedua, hampir lebih dari 60% penumpang kelas ekonomi tersebut diisi oleh penumpang dari manca negara (warga negara asing)!.

Terisi penuh-nya kursi penumpang GA rute internasional merupakan indikasi yang baik untuk perkembangan bisnis perusahaan milik negara yang merupakan armada kebanggaan bangsa kita saat ini. Semoga seat occupancy rate ini terus terjaga dengan baik tidak saja untuk rute Jakarta-Amsterdam tetapi juga rute-rute GA internasional lainnya, sehingga armada udara yang merupakan aset penting nasional ini terus berkembang menuju world class airline yang handal dimasa yang akan datang.
Penumpang GA 88 tujuan Schipol Amsterdam yang sebagian diisi WNA
Jumlah penumpang WNA yang nampaknya melebihi jumlah WNI tersebut menunjukkan bahwa dunia internasional sudah mulai menaruh kepercayaan yang tinggi terhadap layanan (services) maupun standar keamanan (safety standard) yang dimiliki oleh GA saat ini. Dari sisi pelayanan (services standard) saya kira GA nggak jauh beda dengan airline kelas dunia lainnya (maklum saya sangat...sangat jarang pakai airlines negara lain), baik dari sisi keramah-tamahan, kesigapan pramugara/pramugarinya maupun sajian menu makanan dan minumannya. Klaim layanan yang bagus tersebut telah dibuktikan dengan diraihkan pengharagaan internasional sebagai yang terbaik khususnya cabin crew services yang disematkan oleh lembaga pemeringkat independen internasional kepada GA dalam beberapa tahun terakhir mengalahkan airline kelas dunia lainnya.
Dua Penumpang WNA yang duduk disebelah saya 
Kalau WNA saja sudah memberikan kepercayaan tinggi kepada Garuda Indonesia, bagaimana dengan kita sendiri sebagai warga Indonesia yang notabene sebagai pemilik Garuda Indonesia. Sudahkah kita bangga dan peduli dengan GA? Ataukah kita masih bangga menggunakan armada udara negara lain dibandingkan dengan armada kepunyaan sendiri, karena faktor gengsi dan privilege lainnya? Kita sering mendengungkan dan membusungkan dada dengan berucap: “Garuda di Dadaku”, sudahkah kita mewujudkan spirit nationalism tersebut dengan setia menggunakan armada GA setiap kali berpergian keluar negeri? (dengan pengecualian kecuali memang tidak ada layanan penerbangan GA ke negara yang dituju).

Apalagi kalau kita menggunakan anggaran negara untuk membiayai perjalanan tersebut, alangkah tidak etisnya kalau uang negara tersebut justru kita gunakan untuk mendukung perkembangan armada udara negara lain. Jamak ujaran bahwa harga tiket GA itu mahal, saya kiranya pendapat tersebut tidaklah sepenuhnya benar, tiket airline negara lanpun tidak murah-murah amat bahkan terkadang lebih mahal dari GA. Kendatipun misalanya harga tiket GA relatif agak mahal sedikit, toh uang yang dikeluarkan pun kembali ke negara sendiri dibandingkan dengan airline negara lain yang akan menjadi penerimaan negara tersebut.

Mari mulai saat ini kita gemakan “Garuda di Dadaku” dengan mewujudkan kecintaan kita menggunakan armada udara milik sendiri, kalau bukan kita siapa lagi, kalau bukan saat sekarang kapan lagi. Gaungkan semangat nasionalisme kedalam tindakan nyata berpergian dengan GA mulai saat ini dan dimasa yang akan datang.

Catatan: untuk membuat tulisan ini saya tidak dibayar atau di minta atau di sponsori oleh GA, tulisan ini muncul atas kesadaran sendiri tanpa ada pengaruh atau faktor lainnya.

No comments:

Short Interview with a Tourist from Australia on Pulau Padar NTT

On 7th July 2022 I visited Pulau Padar (Padar Island), one of the Islands in the Komodo National Park in Nusa Tenggara Timur Province. Pulau...