Friday, June 29, 2018

Juice “Nenas Gambut Sepucuk”

Setelah tiba malam ini di Jakarta dari perjalanan ke Sumatera Selatan (Kota Palembang & Kab OKI) saya langsung membuat Juice Nenas Murni tanpa campuran lain kecuali sedikit es baru dan air sedikit.
Ini lah hasil juice nenas buatan saya tersebut yang saya beri nama “Juice Nenas Sepucuk”. Kenapa saya kasih nama itu, karena juice ini dibuat dari buah nenas yg dibudidaya oleh kelompok tani dengan tumpang sari dilahan gambut di daerah sepucuk, Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI), Sumatera Selatan. Rasa nenas yang ditanam petani di sepucuk ini sangat khas dan manis segar, sangat berbeda dengan rasa nenas-nenas yang dibudidaya di daerah lain yang selama ini pernah saya cicipi atau juicenya saya minuĂ©.
Budidaya nenas ini di laksanakan oleh Poktan yang diketuai seorang prajurit TNI AD selaku Babinsa didaerah tersebut dan mendapat dukungan pendanaan dari program revitalisasi ekonomi (R3) BRG tahun 2017.
Buah Nenas Gambut Sepucuk
Menurut informasi ketua poktan bahwa dulunya lahan gambut di wilayah yang ditanami nenas terlantar dan selalu terbakar dan bahkan terbakar hebat pada tahun 2015.
Juice Nenas Sepucuk
Saat berbincang-bincang singkat dengan petani nenas saya menanyakan kira-kira nilai penerimaan bruto saat panen perdana buah nenas tersebut. Berdasarkan informasi yang disampaikan anggota Poktan bahwa panen perdana kemarin mereka berhasil memanen sekitar 25.000 buah nenas matang/hektar dgn harga per buah sebesar Rp. 3.000; (harga setempat) maka penerimaan bruto dari hasil penjualan perdana sebesar Rp. 70.000.000;/ha. Setelah saya tanyakan estimasi biaya produksi awal (biaya pembersihan lahan, bibit, pemberian decopomser, pemupukan & pemeliharaan diperoleh perkiraan biaya total sebesar Rp. 55.000.000;/ha, berarti ada keuntungan Rp.15.000.000;/ha. Penerimaan bruto dan keuntungan petani nenas untuk masa-masa panen berikutnya saya prediksikan lebih tinggi lagi karena biaya bibit sudah tidak ada (bibit diambil dari pohon nenas yang sekarang sudah ada) dan perkiraan frekwensi panen nenas dewasa (matang) bisa dilakukan sebanyak dua kali setahun (setiap 6 bulan sekali).
Paling tidak dua aspek positip penting dari kegiatan budidaya nenas di lahan gambut bagi para anggota poktan: pertama, ada sumber pendapatan baru bagi anggota dari hasil penjualan nenas; dan kedua, kemungkinan intensitas kebakaran gambut didaerah tersebut akan berkurang karena petani akan secara sukarela dan terpanggil untuk menjaga agar kebun-kebun nenas mereka tidak terbakar yang menyebabkan kerugian aset produksi.
Sementara tantangan yang dihadapi poktan saat ini adalah keterbatasan pemasaran, harga buah yang relatif rendah (Rp. 3.000;/biji) dan diversifikasi produk berupa pengolahan dan packaging nenas. Sementara ini pemasaran bersifat pasip-okalistik artinya pembeli dari luar yang datang dan dijual di pinggir jalan/di depan dumah.
Aspirasi para petani bahwa kedepan mereka butuh ketrampilan pembuatan produk turunan nenas dan packaging sehingga nilai tambah produk nenas bisa meningkat selain hanya menjual dalam bentuk buah saja. Semoga aspirasi para petani nenas ini bisa kita jawab dan dukung tahun ini dan seterusnya. 
Saat ini para petani nenas di sepucuk sedang giat-giatnya mulai membudidayakan nenas pada lahan-lahan yang terlantar secara swadaya dan menurut info bahwa sudah ada potensi lahan yang sudah dikelola masyarakat sekitar 400-an hektar disana, semoga semangat para petani dijawab dengan dukungan positip dari kita semua.

Saturday, June 23, 2018

Aku Sungai (Puisi Sungai Bagian-3)

Tubuhku berkelok-kelok elok bagaikan ular anaconda melingkari bumi,
Bibir pantaiku indah tak bercela bak bibir merah sang bidadari,
Pepohonan besar dan rindang tumbuh bebas disepanjang sepadanku,
Satwa terestrial dan avifauna bersemayam dan bernyanyi riang di pepohonan diatas sepadanku,
Air putih, bersih dan jernih mengalir melalui tubuhku dari pelosok hulu sampai tepi laut,
Aku mengalirkan air kehidupan dan bukan air bah bencana untuk semua mahkluk,
Ikan-ikan berkeliaran, bersendau gurau dan berlari kian kemari di kebeningan airku yang jernih bak warna Kristal putih,
Manusia menjadi sahabatku dan aku memberikan mereka sumber kehidupan, kesejahteraan dan kedamaian.

Ah…itu dulu, sekarang?

Semuanya telah sirna,
Semuanya tinggal sejarah dan kenangan belaka,
Semuanya hanya tercerita indah di buku-buku dan kanvas guratan pena tanpa realita,
Tubuhku yang indah telah terkoyak dan berserakan tak karuan karena ulah pemburu rente dan harta serakah manusia,
Sepadanku dirajang dan dihancurkan serta dimusnakan tanpa rasa dan iba manusia,
Pohon-pohon indahku ditumbang dan dirajang demi silap mata manusia yang rabun estika dan budaya,
Tubuhku dibuat epicentrum limbah dan sampah manusia tak beretika,
Kelokan tubuhku di codet, dibeton dan diiris-iris demi birahi kuasa dan harta manusia,
Ikan-ikan indahku diracun, disetrum dan di boom untuk usaha manusia durhaka pemuja dosa,
Diriku sering diidentikan sebagai pembawa bencana dan malapetaka dan durjana bagi manusia,
Padahal semuanya itu bukan akibat ulahku, tetapi perbuatan manusia yang memproklamir diri sebagai mahkluk paling saleh beragama, berilmu dan beretika.
  
Jakarta, Minggu, 24 Juni 2018
By Alue Dohong 

Monday, June 18, 2018

SUNGAIKU (Puisi Sungai Bagian-2)

Sungaiku,
Dulu airmu jernih dan bening sehingga aku bisa minum air mu tanpa ragu dan tanpa pilu,

Sungaiku,
Dulu airmu jernih dan bening karenanya aku bisa melihat ikan-ikan berseliweran berenang ria di airmu yang tanpa noda,
Sungaiku,
Dulu sepanjang sepadanmu tumpuh berbagai jenis pohon dengan berbagai ukuran dengan dahan-dahan saling bergelantungan dan saling menyapa dan bernyanyi merdu di kala angin menerpa,
Sungaiku,
Dulu pohon-pohon disepanjang sepadanmu tempat berteduh, bercengkrama dan piring makan berbagai satwa dan avifauna. Begitu merdu dan syahdu suara mereka berelegi pagi sahut-sahutan riang gembira tanpa terusik ulah manusia,
Sungaiku,
Dulu disepanjang pinggiranmu tumbuh berbagai sumber pakan dan sayuran dimana tanpa ragu aku memetikmu kendati tanpa kau minta biaya,
Sungaiku,
Dulu engkau adalah tempat kontemplasi dan meditasi bagiku dikala hati penuh onak duri dan dengki karena dirimu lah sumber air suci.
NASIBMU KINI,
Sungaiku,
Airmu keruh, pekat dan hitam karena polusi dan tindakan keji dan tak peduli manusia. Jangankan berani meninum airmu, memandangmu pun seperti kejijikan bagiku,
Sungaiku,
Kini ikan-ikan pun bahkan enggan untuk berenang dan tinggal di dalam airmu yang keruh dan berbau,
Sungaiku,
Kini disepanjang pinggirmu dirusak, digali dan pohon-pohon indahmu di tebang dan dirusak tanpa peduli dan empati untuk memenuhi hasrat keserakahan dan ambisi manusia,
Sungaiku,
Kini satwa dan avifauna pun enggan bersarang, bercengkerama dan bergelantungan di pinggiranmu karena memang tidak ada tempat lagi bagi mereka untuk bersenda gurau dan bernyanyi riang. Kalau pun satwa dan avifauna berani mendekat maka siap-siap mereka menjadi mangsa manusia gelap mata, 
Sungaiku,
Kini dirimu tak lebih dari benda mati tanpa arti karena tanpa apresiasi dan peduli dari kami,
Sungaiku,
Kesedihan nasibmu kini bukan karena ulah dirimu, tetapi hasil tingkah polah dan pongah kami manusia berilmu tinggi dan beragama priyayi. 

Jakarta, Medio April 2018
Alue Dohong

SUNGAI (Puisi Sungai 1)

Sungai,
Dulu engkau kami anggap sebagai sumber air kehidupan, karenanya engkau sangat kami cintai dan hormati.
Sungai,
Dulu engkau kami anggap sebagai sumber urat nadi perekonomian, karena engkau menyajikan sumber kehidupan dan gizi bagi jasmani kami.
Sungai,
Dulu engkau kami anggap sebagai jalur transportasi utama, karenanya engkau di puja dan puji karena engkau berjasa melancarkan migrasi orang dan barang dari kota sampai ke pelosok desa
Sungai,
Dulu engkau kami anggap pusat terapi kesehatan raga dan jiwa, karena aliran jernih air mu mengobati dahaga raga, jiwa dan fikiran kami.
TETAPI SEKARANG,
Sungai,
Engkau kami punggungi dan memandangmu pun merupakan kengerian dan kejijikan bagi kami karena pekat hitam warna air mu dan comberan sengit bau mu.
Sungai,
Kini engkau kami anggap tidak lebih dari tong sampah, dimana berbagai sampah dan kotoran kami tumpahkan diatas mu tanpa peduli nilai-nilai estetika mu
Sungai,
Kini engkau kami hanya anggap sekedar aksesori alam yang karenanya sering di kebiri dan ditutupi.
Sungai,
Kini engkau tidak lebih dari pusat caci-maki dan karenanya engkau sering dianggap pembawa bencana banjir dan pembunuh Jiwa
Sungai,
Engkau adalah korban ambisi dan ketidakpedulian kami yang selalu mengangap diri mahkluk penuh religi dan berilmu tinggi.

Medio April 2018
Alue Dohong

Saturday, June 16, 2018

Alue Dohong: Peatlands restoration positively impact communities

Source: Center for International Forestry Research (published April 2018)
https://youtu.be/yWoRCxqIR2Q

Carbon Emission from Oil Palm Located on Deep Peat in the EMRP

Despite the regulatory threshold of peat deeper than 3 meters is not allowed for agricultural cultivating activities, yet, about 40% oil palm plantation in the Ex-Mega Rice Project (EMRP), Central Kalimantan located in deep peatland (>3 meters depth). Continuing oil palm practices on deep peat in the EMRP will release high carbon dioxide results from peat drained and other factors.
To know further details please read out paper authored by Dohong, A et al., 2018 entitled: "Carbon emissions from oil palm development on deep peat soil in Central Kalimantan Indonesia", published in Anthropocene Vol. 22 June 2018, pp. 31-39 in the following journal access:
https://www.sciencedirect.com/science/article/pii/S2213305418300274?via%3Dihub

 

Techniques for Effective Tropical Peatland Restoration

Do you know barriers that are often hampering the successful of tropical peatland restoration?. Do you know techniques that have been employed to restore degraded peatland and their efficacies in the tropic? A paper authored by Dohong, A et al., 2018 entitled: "A Review of Techniques for Effective Tropical Peatland Restoration", published in Wetlands Vol. 38 Issue 2, pp 275-292 reviews the restoration barriers, restoration techniques and efficacies of those techniques in addressing peatland degradation with case in point in Indonesia. For further details please visit the following journal access: https://link.springer.com/article/10.1007%2Fs13157-018-1017-6


Thursday, January 18, 2018

The Stream-Indonesia up in smoke

The stream produksi Al Jazeera tahun 2015 dengan judul: Indonesia up in smoke, membahas tentang masalah asap di Indonesia akar penyebab, dampak dan solusi uituk mengatasinya. Salah satu narasumber dari video tersebut adalah tersebut adalah saya sendiri Alue Dohong
Untuk mengakses dan menonton video tersebut silahkan klik tautan berikut:
https://www.youtube.com/watch?v=k5T4q-bgw90


Earth Report - Burning Bush

Laporan film Earth Report dengan judul Burning Bush yang diproduksi BBC sekitar delapan tahun  yang lalu bicara tentang Gambut dan permasalahanya serta upaya mengatasinya melalui kegiatan restorasi gambut. Nara sumber utama film dokumenter ini adalah Dr. Suwido Limin (Direktur CIMTROP Universitas Palangka Raya) dan saya sendiri Dr. Alue Dohong (saat itu sebagai site coordinator Wetlands International-IP). Sayang film dokumenter ini agak terputus di segmen akhirnya.
Silahkan cihat video pada link berikut: https://www.youtube.com/watch?v=Vfmp3W9R7mQ

Wednesday, January 17, 2018

Panduan Teknis Revegetasi Lahan Gambut

Melakukan revegetasi laban gambut bukanlah pekerjaan mudah dan membutuhkan teknis khusus agar tingkat keberhasilan dan keberlanjutan hasil revegetasi tersebut memberikan hasil yang maksimal. Pada saat ini panduan teknis revegetasi lahan gambut tidak banyak tersedia dan mudah diakses oleh umum, oleh sebab itu Badan Restorasi Gambut melalui Kedeputian Konstruksi, Operasi dan Pemeliharaan telah menerbitkan Panduan Teknis Revegetasi Lahan Gambut yang disusun dengan bahasa, penyajian dan ilustratif sederhana sehinga mudah dipahami dan dipakai oleh khalayak umum yang berminat melakukan kegiatan revegetasi lahan gambut.'
Buku Panduan Teknis ini terbagi kedalam 3 (tiga) bagian besar, yaitu: i) Bagian 1: pembangunan persemaian; ii) Bagian 2: Pembibitan Tanaman Hutan Rawa Gambut; dan iii) Bagian 3: persiapan, penanaman dan pemeliharaan.
Buku ini ditulis oleh Iwan Tri Cahyo Wibisono dan Alue Dohong dan diterbitkan oleh Badan Restorasi Gambut Republik Indonesia.
Bagi yang berminat untuk membaca dan memahami isi buku Panduan Teknis ini secara online dapat diakses melalui tautan berikut ini:
https://play.google.com/books/reader?id=aOKpHwAAAEAJ&pg=GBS.PA0

Modul Pelatihan Pembangunan Infrastruktur Pembasahan Gambut Sekat Kanal Berbasis Masyarakat

Saat ini belum banyak tersedia buku modul pelatihan pembangunan infrastruktur pembasahan gambut khususnya sekat kanal yang bisa akses maupun digunakan oleh khalayak masyarakat. Untuk itu Badan Restorasi Gambut melalui Kedeputian Konstruksi, Operasi dan Pemeliharaan telah menjawab kelangkaan ini dengan menuliskan modul pelatihan yang denna bahasa yang sederhana dan mudah dimengerti oleh khalayak pembaca umum.
Buku Modul Pelatihan ini menyajikan materi pelatihan pembangunan infrastruktur pembasahan gambut sekat kanal sederhana. Materi terbagi ke dalam dua bagian besar yaitu materi umum yang disajikan pada Bab 2, Bab 3 dan Bab 4; dan materi khusus tentang pembangunan sekat kanal sederhana disajikan pada Bab 5, Bab 6, Bab 7 dan Bab 8.
Untuk membaca secara online buku modul pelatihan ini bisa diakses melalui tautan berikut
https://play.google.com/books/reader?id=WOSpHwAAAEAJ&pg=GBS.PA3

Tuesday, January 09, 2018

Drivers of Tropical Peatland Degradation in South-East Asia



While recognising that the South-East Asia region holds the largest peatland area in the tropics, however, the region is also facing the most degraded peatland area globally.

Do you want to know more about the drivers of tropical peatland degradation in South-East Asia? There are many factors that contribute to the degradation of tropical peatland in the region. Those factors entail Direct and Indirect drivers. The direct drivers comprise logging, conversion to large-scale agriculture and/or industrial plantations, construction of artificial drainage canals, repeated fires,   poverty incidence, and traditional farming practices. Meanwhile, the Indirect factors consist of climate change, land use policy and governance.
Peatland degradation in the South-East Asia has imposed negative impacts to the quantity and quality of peat forest covers, increasing carbon emissions over time, and biodiversity loss as well as habitat fragmentation.

To know further details on the peatland degradation drivers and its associated impacts in South-East Asia region please read on the paper by Dohong, Alue et al., 2017.'A review of the drivers of tropical peatland  degradation in South-East Asia', published in Land Use Policy 69 (2017) 349-360 through the following access:
http://www.sciencedirect.com/science/article/pii/S026483771730529X


Friday, December 22, 2017

GLOBAL REKOGNISI KEBERHASILAN RESTORASI GAMBUT INDONESIA

Catatan dari GLF & GPI, Bonn, Jerman, 19-21 Desember 2017
Ada kejadian yang sangat menarik pada Kamis (20/12/2017) saat saya mengikuti atau menyaksikan Side Event Global Landscapes Forum (GLF) di Pavilion Jerman dengan tema: “Peatland”. Ada 3 (tiga) orang pembicara yang tampil dalam sesi tersebut yakni Prof. Hans Joosten (Greifswald University/Greifswald Mire Center), Diana Kopansky (UNEP, Coordinator GPI), dan Dr. Tobias Selatho (Ramsar Convention Secretary). Yang menarik pada sesi ini adalah ketiga presenter dalam presentasinya justru memuji-muji keberhasilan Indonesia dalam merestorasi, pengelolaan, dan proteksi lahan gambutnya baik dari segi legal framework maupun aksi-aksi nyata di lapangan (mudah-mudahan pujian ketiga orang penyaji tersebut bukan karena kehadiran saya disitu hehehe).
Prof. Hans Joosten (Greifswald University)
Prof. Hans Joosten misalnya menyatakan bahwa pada kurun waktu 2016-2017 Indonesia telah merestorasi gambutnya melebihi total luasan restorasi gambut yang dilakukan gabungan seluruh negara-negara Eropah selama ini. Bahkan Prof. Joosten menyatakan luasan capaian restorasi gambut Indonesia, tercatat sebagai keberhasilan dalam sejarah restorasi gambut global (saya percaya bahwa statement beliau ini pasti didasari data dan fakta ilmiah karena reputasi beliau sebagai ilmuwan gambut global). Oleh sebab itu, Prof. Hans Joosten menganjurkan agar negara-negara di dunia termasuk negara-negara Eropah dapat belajar dan menimba pengalaman Indonesia dalam merestorasi gambut.
Diana Konpansky (UNEP/Coordinator GPI)

Sementara itu, Diana Kopansky (UNEP) dan Tobias Selatho (Ramsar Convention) mengungkapkan pujian yang senada terutama terkait dengan keberhasilan Indonesia meletakkan fondasi regulasi yang solid dan aksi nyata kegiatan restorasi, pengelolaan, dan proteksi gambut di Indonesia. Diana Kopansky menambahkan bahwa Democratic Republic of Congo (DRC) dan Congo Republik pasca menghadiri the 2nd Partners Meeting of Global Peatlands Initiative (GPI) yang diselenggarakan di Jakarta pada Mei 2017, telah membentuk Peatland Unit (semacam lembaga pemerintah yang khusus menangani gambut) di negara masing-masing dengan belajar dari pengalaman Indonesia. Untuk itu, ketiga pembicara tersebut meminta negara-negara pemilik gambut meniru leadership Indonesia di dalam merestorasi, mengelola dan memproteksi gambutnya secara bijaksana dan berkelanjutan.
Dr. Tobias Selatho (Ramsar Convention), paling kanan
Disela-sela sesi diskusi dan tanya jawab, tiba-tiba moderator menyeletuk dengan mengatakan: “We are glad at the moment as Deputy Director of Indonesian Peatland Restoration Agency is here with us in this room, and I am now inviting him to share briefly with us about Indonesian Government experience notably in establishing legal framework for peatland management, protection and restoration”, sambil meminta petugas memberikan microphone ke saya (saya sedikit merasa terkejut dengan permintaan mendadak tersebut).

Saat diinterview Media di acara GLF
Saat diinterview Media di acara GLF
Akhirnya saya mencoba menjelaskan kepada peserta, pertama-tama, Pemerintah Indonesia dibawah leadership presiden Bpk Jokowi memilki komitmen yang sangat serius di dalam pengelolaan, perlindungan dan restorasi gambut di Indonesia. Komitmen tinggi tersebut diwujudkan dalam pengeluaran peraturan-peraturan antara lain: 1) PP No. 57/2016 tentang pengelolaan dan perlindungan ekosistem gambut; 2) Perpres No. 1/2016 tentang Pembentukan Badan Restorasi Gambut (BRG); 3) Instruksi Presiden No. 6/2017 tentang perpanjangan moratorium konversi hutan primer dan lahan gambut; 4) Permen LHK No. 14/2017 tentang Inventarisasi dan Penetapan Fungsi Ekosistem Gambut; 5) Permen LHK No. 15/2017 tentang Tatacara pengukuran TMA pada titik penaatan di ekosistem gambut, dan 6) Permen LHK No.16/2017 tentang Petunjuk Teknis Pemulihan Eksosistem Gamhut. Disamping peletakan fondasi regulasi tersebut, Pemerintah Indonesia bersama para pihak secara nyata melakukan restorasi gambut dalam mewukudkan target restorasi gambut minimal 2 juta ha sampai tahun 2020, imbuh saya mengakhiri paparan sebagaI respon permintaan moderator tersebut.
Dengan adanya pengakuan global tersebut tentu menjadi cambuk sekaligus tantangan bagi bangsa Indonesia dalam merealisasi target restorasi, pengelolaan, dan perlindungan ekosistem gambut untuk kesejahteraan rakyat dan keberlanjutan fungsi, nilai dan jasa ekonomi, sosial dan lingkungan ekosistem gambut kita. Semua ini akan bisa terwujud apabila kita lakukan secara bersama-sama (collective action) dan mari kita buktikan pada dunia bahwa Indonesia adalah pemimpin dunia dalam restorasi, pengelolaan & perlindungan ekosistem gambut.

Monday, December 18, 2017

“MEWUJUDKAN GARUDA DI DADAKU”

Schipol Airport, Amsterdam (18 Desember 2017)

Perjalanan saya dengan Garuda Indonesia (GA) dengan nomor penerbangan GA88 dari Bandara Soekarno-Hatta menuju Bandara Schipol, Amsterdam Belanda kali ini diliputi rasa haru sekaligus bangga. Ada 2 (dua) alasan yang mendasari keharuan dan kebanggaan saya tersebut, pertama, hampir seluruh bangku kelas ekonomi dimana saya duduk terisi penuh (info dari pramugari bahwa kelas business juga terisi penuh); dan kedua, hampir lebih dari 60% penumpang kelas ekonomi tersebut diisi oleh penumpang dari manca negara (warga negara asing)!.

Terisi penuh-nya kursi penumpang GA rute internasional merupakan indikasi yang baik untuk perkembangan bisnis perusahaan milik negara yang merupakan armada kebanggaan bangsa kita saat ini. Semoga seat occupancy rate ini terus terjaga dengan baik tidak saja untuk rute Jakarta-Amsterdam tetapi juga rute-rute GA internasional lainnya, sehingga armada udara yang merupakan aset penting nasional ini terus berkembang menuju world class airline yang handal dimasa yang akan datang.
Penumpang GA 88 tujuan Schipol Amsterdam yang sebagian diisi WNA
Jumlah penumpang WNA yang nampaknya melebihi jumlah WNI tersebut menunjukkan bahwa dunia internasional sudah mulai menaruh kepercayaan yang tinggi terhadap layanan (services) maupun standar keamanan (safety standard) yang dimiliki oleh GA saat ini. Dari sisi pelayanan (services standard) saya kira GA nggak jauh beda dengan airline kelas dunia lainnya (maklum saya sangat...sangat jarang pakai airlines negara lain), baik dari sisi keramah-tamahan, kesigapan pramugara/pramugarinya maupun sajian menu makanan dan minumannya. Klaim layanan yang bagus tersebut telah dibuktikan dengan diraihkan pengharagaan internasional sebagai yang terbaik khususnya cabin crew services yang disematkan oleh lembaga pemeringkat independen internasional kepada GA dalam beberapa tahun terakhir mengalahkan airline kelas dunia lainnya.
Dua Penumpang WNA yang duduk disebelah saya 
Kalau WNA saja sudah memberikan kepercayaan tinggi kepada Garuda Indonesia, bagaimana dengan kita sendiri sebagai warga Indonesia yang notabene sebagai pemilik Garuda Indonesia. Sudahkah kita bangga dan peduli dengan GA? Ataukah kita masih bangga menggunakan armada udara negara lain dibandingkan dengan armada kepunyaan sendiri, karena faktor gengsi dan privilege lainnya? Kita sering mendengungkan dan membusungkan dada dengan berucap: “Garuda di Dadaku”, sudahkah kita mewujudkan spirit nationalism tersebut dengan setia menggunakan armada GA setiap kali berpergian keluar negeri? (dengan pengecualian kecuali memang tidak ada layanan penerbangan GA ke negara yang dituju).

Apalagi kalau kita menggunakan anggaran negara untuk membiayai perjalanan tersebut, alangkah tidak etisnya kalau uang negara tersebut justru kita gunakan untuk mendukung perkembangan armada udara negara lain. Jamak ujaran bahwa harga tiket GA itu mahal, saya kiranya pendapat tersebut tidaklah sepenuhnya benar, tiket airline negara lanpun tidak murah-murah amat bahkan terkadang lebih mahal dari GA. Kendatipun misalanya harga tiket GA relatif agak mahal sedikit, toh uang yang dikeluarkan pun kembali ke negara sendiri dibandingkan dengan airline negara lain yang akan menjadi penerimaan negara tersebut.

Mari mulai saat ini kita gemakan “Garuda di Dadaku” dengan mewujudkan kecintaan kita menggunakan armada udara milik sendiri, kalau bukan kita siapa lagi, kalau bukan saat sekarang kapan lagi. Gaungkan semangat nasionalisme kedalam tindakan nyata berpergian dengan GA mulai saat ini dan dimasa yang akan datang.

Catatan: untuk membuat tulisan ini saya tidak dibayar atau di minta atau di sponsori oleh GA, tulisan ini muncul atas kesadaran sendiri tanpa ada pengaruh atau faktor lainnya.

Orangutan Sang Penjaga Rimba

Oleh: Alue Dohong Ditengah hutan rimba yang subur, berbagai mahkluk liar berkeliaran dengan damai dan bersahaja, Berdiri gagah seorang penja...